Sebelum berangkat dan memutuskan ke Jogja untuk bekerja, aku selalu memiliki stereotipe bahwa Jogja itu murah, orangnya ramah, dan ketika mendarat disini, hmmm ketemu tukang parkir dimana-mana yang kalau nggak dikasi uang ekspresi mereka berubah, ada anak muda suka nyerempet-nyerempet, ada orang merokok sambil nyetir, ada geng motor geber-geber, harga makanan pun susah banget dapat dibawah Rp. 10.000. Well, mungkin persepktif Yogya yang ramah, murah, damai itu sepertinya udah mulai luntur ya, bahkan aku belanja di warung yang dijaga seorang nenek saja mau bayar pakai Qris kena sentak karena dia gak bisa pakai Qris maunya cash, alhasil aku disuruh nunggu anaknya pulang saja kalau pakai Qris. Karena kelamaan, aku ganti toko aja.
Anyway, disini semua harga makanan satu kali makan minimal Rp. 10.000 - Rp. 18.000 itupun udah di Warmindo. Tapi karena aku memang tidak terlalu banyak makan dan aku melihat porsi di beberapa Warmindo nasinya emang jumbo, aku bisa buat seporsi itu untuk 2x makan Jadi, kalau kamu terbiasa makan 3x sehari, bisa dihitung sendiri ya habis berapa.
Ada opsi yang lebih murah lagi sih, yaitu nasi kucing, nasi kuning, tapi kurasa kalian akan susah kenyang karena memang porsinya sedikit, apalagi buat kalian yang kerja 8-10 jam sehari. Jadi memang rata-rata kalau kamu hemat, di Jogja akan habis 10.000 - 20.000 untuk makan tanpa njajan.
Ketika menjadi perantauan di tahun 2026 ini, sekarang Rp. 50.000 udah gak ada harganya. Uang segitu bisa habis dalam 2 hari bahkan sehari. Padahal, aku dulu selalu merasa bahwa Rp. 50.000 itu bisa dibuat seminggu. Benar-benar semua harga naik dan Jogja sudah tidak sesuai ekspektasiku.
Alhasil, aku memutuskan untuk membeli rice cooker. Tapi sedihnya, nyari lauk yang bisa genap 10.000 dapat banyak bener-bener susah. Karena warmindo gak ada yang jualan tahu tempe. Mereka cuma sediakan ayam goreng, telur, sayur. Ayam goreng disini 1 bijinya 8.000 - 15.000. Jadi kalau mau dapat lauk dengan harga 10.000, cuma dapat 1 ayam dan sayur seharga 2.000. Menangis gak sih? Mending rp. 15.000 tapi porsi jumbo bisa buat 2x makan gak sih?
Dan hari ini, aku mencoba untuk membeli lauk ditempat lain dengan membawa uang 20.000. Awalnya aku cuma mau beli lauk rp. 12.000, tapi malah habis rp.20.000, jadi gimana ceritanya? Jadi aku bilang sama penjualnya, "mas mau beli ayam satu, sama tahu, mau beli 12.000, jadi tahunya 4.000" Tetapi you know apa yang dilakukan sama masnya? Dia cuma menelan kalimat pertama dan mengabaikan kalimat terakhir. Jadi, alhasil aku menyaksikan masnya memasukkan banyak sekali tahu ke kresek, dan apa yang terjadi? Aku beli ayam goreng 1 biji seharga 8.000 dan tahu sebanyak 12.000, totalnya 20.000. Anyway, tahunya 2.000 dapat tiga.
SUMPAH! aku nyesel banget cara ngomongku mungkin salah. Harusnya dari awal aku bilang aja mau beli ayam satu sama tahunya beli 4.000. Saat itu otakku masih lemot karena tahu 2.000 dapat tiga, jadi instead bilang ayam 1 dan tahu 6, malah meleset jauh. Nyesek lah. Yaudah akhirnya aku putuskan besok buat puasa cuma makan tahu aja. Jadi inilah cerita sedihku.
Aku juga mau cerita, kalau di Jogja itu ternyata orangnya suka mengelompokkan orang berdasarkan strata ekonomi boss! Nggak kalah jauh sama di kota lainnya. Mereka itu sukanya bilang "tumpakan" atau kendaraanmu apa? semakin N-max motormu atau moge motormu maka kamu akan seperti orang yang disembah-sembah, tapi kalau tumpakanmu cuma "supra" kamu cuma dianggap kelas biasa. Well, emang N-max mu itu udah jauh pergi kemana sih? Mogemu itu paling jauh kemana sih? heran. Emang kalau motorku supra atau cuma beat kenapa? gak usah kakean gaya menurutku. Trus mereka itu kayak suka gengsi, semisal "kosmu harga berapa?" kalau kosmu diharga 400 - 500 kamu kayak dianggap orang berkekurangan, tapi kalau kosmu 800 - 2 juta dipuji-puji wah anak orang kaya ini. Maksud loeh?! Aku ngekos mau murah atau mahal itu pilihanku sendiri woy! Lagian aku dengan harga segini udah dapat free wifi, bisa nyetrika, bisa mandi, bisa masak, punya rice cooker, ini semua udah layak buat ditinggali dan survive! Lagian lu ngapain kos mahal-mahal beli motor mahal-mahal cuma buat datang ke kantor? Aku cuma butuh perbanyak saving untuk investasi, jadi gak perlu gengsi untuk meningkatkan derajat sosial dengan barang-barang pribadi yang nampak wah.
Dah gitu aja ceritaku hari ini. Jadi, buat aku yang selalu berpikir Jogja ramah, murah, penuh tata krama. Set, kamu sekarang udah sadar kan, sebetulnya disini pun sama aja kayak di kota-kota lain. Sama saja set. Jangan berekspektasi lebih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
| Give me the best opinion Dude |