Senin, 11 Mei 2026

My Biggest Dream

Mimpi ini sebetulnya udah aku bayangkan ketika masih duduk dibangku kuliah, sekitar tahun 2018. Ada waktu dimana aku ingin dunia berjalan seperti game harvestmoon. Tidak ada gengsi, hidup sederhana, semua tercukupi, semua saling membantu, tidak ada pengerusakan alam untuk kepentingan pribadi, hubungan antara manusia, alam, makhluk gaib sekalipun, dan Tuhan tetap harmonis.

Kemudian, tahun 2023 setelah lulus dan baru memulai pekerjaan pertama, aku menuliskan mimpi ini kembali namun secara tertulis, dan tahun 2026 ini aku membuat gambar digitalnya. hahaha, it's been 8 years. Anyway, aku sejenak berpikir.... "Huh.. kenapa imajinasi melulu, kapan terealisasinya ya?" Aku pun bingung, karena seluruh tabunganku sudah kuserahkan ke orang tua, sebagian udah digunakan untuk perbaikan mobil orang tua, kini aku memang harus memulai dari awal lagi. 

Sebetulnya, sebelum menyerahkan uangku semua ke orang tua, aku berencana bekerja di luar negeri jalur working holiday visa 2025. Aku juga mencoba untuk mendaftar beasiswa Manaaki New Zealand scholarship, namun aku masih gagal mendapatkannya tahun 2024, dan bulan kemarin aku mencoba mendaftar beasiswa Manaaki New Zealand sekali lagi di tahun 2026. Aku ingin banget keluar negeri bukan untuk bergaya, melainkan untuk belajar sekaligus mendapat pundi-pundi dollar yang 500 juta bisa diraih secara realistis dalam setahun secara bersih, namun jika kita bekerja di Indonesia harus menghabiskan waktu 8-20 tahun tergantung seberapa besar gaji dan kemampuan kita dalam menabung. See? It's unfair. Sedihnya lagi, pengumuman beasisawa Manaaki akan diumumkan 9 bulan kemudian, dan tentu saja harapan dan keinginan yang belum pasti harus bertabrakan dengan kontrak kerja yang baru saja akan kujalani. 

Lalu, apa yang harus kulakukan ketika aku gagal meraih itu? kuputuskan untuk menyerahkan semua uangku ke orang tua karena aku tidak mau terlambat membahagiakan mereka. Namun, tidak bisa dipungkiri orang tua terkadang masih memberiku uang sebagai bekal untuk bertahan hidup dan jujur jumlah yang aku beri masih sedikit karena memang gajiku ditempat kerja pertama tidaklah banyak. After resign dari kantor sebelumnya, kini aku menyadari bahwa gaji UMR itu ternyata adalah sebuah prestasi yah.. hahaha.. Hal itu dikarenakan banyak orang yang masih dipekerjakan dibawah UMR dan itu sangat menyakitkan ketika kerja keras kita seluruh waktu tenaga untuk lembur itu hasilnya segitu saja, dan entah kenapa setelah resign dari kantor pertama aku seperti kehilangan diriku sendiri, banyak tumpukan rasa sakit yang aku rasakan sampai-sampai setelah resign saja rasanya masih menjadi trauma berat bagiku untuk memulai pekerjaan kembali.

Kini? Aku mencoba bekerja di Bali. Disitu suasana sangat dingin karena aku berhasil mendapat pekerjaan di daerah Kintamani area agrotourism. Entah kenapa aku merasa menginjak tanah Bali itu seperti berada dalam dimensi yang lain. Aku selalu merasa seperti tidak akan bisa pulang lagi ke tanah jawa, karena feeling ini yang terus menghantuiku ditambah hawa dingin yang menyelimuti serta beberapa kejanggalan yang aku rahasiakan, maka aku putuskan tidak lanjut di Bali. Padahal, aku udah sangat senang bisa bekerja di area agrotourism karena itulah yang aku mau, bekerja di lahan hijau pertanian dan bertemu beberapa sapi. Namun, meskipun judulnya agrotourism, ternyata manajemen disini memisahkan lahan pariwisata dengan lahan pertaniannya, sehingga aku diletakan di divisi wisata yang mana tugasnya sebagai supervisor taman bermain seperti bianglala, ATV, kid's club, dan sebagainya, bukan di area pertaniannya. 

Akhirnya, aku pulang lagi kerumah dalam keadaan malu. Malu karena gagal dapat pekerjaan baru, gagal menjadi harapan orang tua, gagal menjadi pribadi lebih kuat untuk diri sendiri, gagal juga menjadi ketua panitia paskah 2026 karena aku lebih memutuskan untuk mencari kerja daripada menjadi ketua panitia paskah setelah resign, padahal aku sudah ditunjuk dan semua orang gereja tau bahwa aku yang akan menjadi ketua panitia paskah 2026 di gerejaku tercinta. Jika aku mengerti kalau saja aku menganggur lebih lama, maka tentu aku akan putuskan menjadi ketua panitia paskah. Tapi, entahlah rasanya setelah resign itu trauma-trauma belum lekas sembuh, ditambah lagi gagal dapat SDUWHV padahal udah spend banyak uang untuk test IELTS dan sewa internet cepat, dan ketika dipaksa menjadi ketua panitia paskah, rasanya memang berat bagiku saat itu. Aku belum mampu menanggungnya. Maafkan aku, Tuhan.

Kemudian, aku mendaftar dan bekerja di PT. Kanisius sebagai salesman proyek pengadaan pemerintah maupun dana BOS di portal LKPP dan SIPLah. Aku tertarik dengan PT. Kanisius karena berada dibawah Ordo Jesuit Indonesia. Jika bekerja disini, artinya aku bekerja juga untuk kemajuan gereja. Disini sangat senang dapat makan siang gratis tiap hari, hari sabtunya libur. Namun, suatu waktu aku benar-benar tidak bisa tidur seharian, keesokan harinya ternyata orang HRD datang namanya Pak Heri untuk menginformasikan terkait penandatanganan kontrak kerja pukul 10.00 WIB. Entah apa yang terjadi, aku tidak menandatangani kontrak kerja tersebut. Benar-benar gak tau kenapa aku tidak tanda tangan kontrak. Rasanya aku seperti sedang mencari-cari alasan yang tidak ada artinya sama sekali, trauma dan ketakutan juga masih sedikit menghantui. Namun, beberapa hal yang memang tidak bisa aku akan capai salah satu indikatornya adalah target salesman yang tinggi dengan area yang sangat terbatas. Dilihat dari history transaksi di area- area tersebut dengan target yang aku miliki, tentu saja ini seperti mustahil. Akhirnya, daripada hanya memanfaatkan gaji buta selama 3 bulan (masa probation 3 bulan) untuk hasil yang tidak tembus target, terjadilah perpisahan kerja. Aku bener-bener gak tau apa yang terjadi, semua terjadi begitu saja. Padahal, aku kerja 3 bulan itu sudah pasti dapat gaji meskipun hasilnya cuma 10-30% dari target. Lalu apakah aku ada backingan pekerjaan? Jawabannya tidak.

Namun, setelah itu, tepat hari jumat pukul 16:34, Olifant School menghubungiku untuk mengikuti wawancara kerja. Entahlah, semuanya terjadi sangat kebetulan tepat disaat aku tidak menandatangani kontrak kerja itu. Padahal, hari seninnya aku masih diberikan kesempatan, tapi karena hanya aku yang tidak tanda tangan kontrak diantara semua karyawan baru, maka perlakuan dan situasi kantor rasanya seperti berubah. Dalam dunia kerja, setelah kita tanda tangan kontrak, maka disitulah keaslian tuntutan pekerjaan akan kita hadapi, bukan disaat sebelum tanda tangan kontrak. Lalu gimana endingnya? aku tidak melanjutkan di PT. Kanisius dan aku di Jogja diterima sebagai karyawan di Olifant School. Tapi jujur, aku sendiri saat ini bingung. Kenapa ya Tuhan itu kok enggak langsung menempatkan aku ke Australia atau New Zealand gitu supaya cepet kaya dan membangun ekosistem yang aku impikan? Akhirnya daripada pasrah dan tidak kunjung menemukan jawaban serta terlalu banyak pusing memikirkan hal yang tidak bisa aku raih, aku memilih untuk menjalani peluang apa yang ada didepan mata, karena kalau tidak aku hanya akan menjadi orang pengangguran dengan banyak mimpi dan berakhir pulang lagi kerumah.

Sebelum memutuskan ke Jogja pun, diperjalanan naik motor aku sangat gelisah karena di Bali ada tawaran pekerjaan ditempat yang sudah aku kenal dan sudah ramai penduduk. Diperjalanan, aku kehujanan dan aku menepi sejenak. Aku datang ke Jogja tanpa persiapan tempat tinggal dan memesan kos termurah di Jogja melalui grup facebook. Pukul 16.00 sore udah sampai Solo naik motor, kurang dikit lagi nyampe Jogja, malah ada kepikiran balik lagi ke Bali. Akhirnya, Tuhan malah menegurku dengan cipratan air hujan dari pengendara mobil yang membasahi semua tas berisi pakaian, padahal aku udah menepi. Aku juga hampir keserempet pengendara motor lain. Mungkin, inilah cara Tuhan untuk mengatakan: WES JANGAN PULANG, PERCOYO KARO AKU!

Kira-kira, di kantor baru ini aku akan menemukan lingkungan seperti apa ya? kesulitan pekerjaannya gimana ya? apakah luka masa lalu akan muncul lagi ditempat ini dengan pola yang sama atau tidak? Aku berharap Tuhan benar-benar menempatkan aku ditempat yang tepat dan aku akan berusaha bertanggung jawab atas semua yang dipercayakan Tuhan kepadaku, bakat, pekerjaan, niat baik, semua akan kuserahkan untuk Tuhan, untuk sesama, bukan untuk diriku sendiri.

Aku berharap mimpi ini terus bertumbuh dari imajinasi menuju realita yang entah bagaimana proses yang Tuhan tunjukkan, karena aku ssangat percaya bahwa mimpiku ini bisa bermanfaat bagi banyak orang dan kebahagiaanku adalah melihat orang bahagia serta berkecukupan dan mendapatkan rasa aman.

Tuhan Yesus, kuserahkan semuanya kedalam tangan-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Give me the best opinion Dude |